Paralegal Nasyiatul Aisyiyah, Berdakwah Mengurangi Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Jakarta - Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak setiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada tahun 2013 terjadi peningkatan jumlah kasus kekerasan terhadap anak kurang lebih 60% dari tahun 2012. Sebanyak 3.023 kasus pelanggaran hak anak terjadi di Indonesia dan sekitar 1.620 kasus [...]

Training Paralegal PPNA untuk Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Jakarta - Pada tanggal 12-14 September 2014, Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah mengadakan training paralegal di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat. Pelatihan yang berlangsung selama 3 (Tiga) hari ini diikuti oleh 24 orang Peserta yang merupakan perwakilan dari PWNA Jabar, PWNA [...]

Nasyiah Sulteng Siapkan Kader Berintegritas Penggerak Organisasi

Palu – Sebagai upaya menyiapkan kader Nasyiah yang memiliki integritas tinggi dalam menggerakkan dan mengembangkan organisasi, khususnya demi mencapai tujuan dari Nasyiatul Aisyiyah, PWNA Sulteng menyelenggarakan Darul Arqam Nasyiatul Aisyiyah (DANA) III se-regional Indonesia Timur. Kegiatan perkaderan DANA III ini [...]

PWNA Aceh Giatkan Wirausaha Perempuan “SEMINAR KEWIRAUSAHAAN PWNA ACEH”

Untuk menggiatkan wirausaha di Aceh, Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Aceh menyelenggarakan Seminar Wirausaha di Aula Universitas Muhammadiyah Aceh (15/06). Seminar diikuti oleh pelaku usaha kecil dan menengah, baik yang telah lama memulai usaha maupun baru mengawali usaha, entah itu [...]

Nasyiatul Aisyiyah Fokus Pada Dakwah Pencerahan Perempuan dan Anak

Nasyiatul Aisyiyah menyelenggarakan Rapat Pleno Pimpinan ke –V pada Sabtu (24/08) hingga Minggu (25/08). Berbagai topik persoalan perempuan akan dibahas oleh organisasi sayap perempuan Muhammadiyah ini, mulai dari persoalan keagamaan, pendidikan hingga upaya advokasi perempuan dan anak. “Tema besar yang [...]

 

Kampanyekan Rasa Damai pada Perempuan dan Anak, PPNA Ikuti Pawai Perdamaian

cfd1

Jakarta - Ahad (21/9/2014), Nasyiatul Aisyiyah bersama 144 organisasi/komunitas lainnya mengikuti Pawai Perdamaian dalam rangka Hari Perdamaian Internasional di Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta. Kegiatan yang digelar Wahid Institute bekerjasama dengan PPNA dan berbagai organisasi lainnya ini bertujuan untuk mengkampanyekan perdamaian, agar bangsa Indonesia dapat menghapus diskriminasi, melupakan konflik, dan selalu mengedepankan perdamaian.

Sekretaris Umum PPNA, Ulfah Mawardi menyatakan bahwa kita harus menciptakan dan menghadirkan rasa damai dalam kehidupan sehari-hari, khususnya menghadirkan rasa damai pada kehidupan perempuan dan anak.

Ulfah juga menambahkan bahwa Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi putri Muhammadiyah berkomitmen hadir sebagai gerakan ramah perempuan dan anak yang senantiasa berjuang dalam upaya penyadaran, pembelaan, advokasi, dan pemberdayaan perempuan dan anak. Gerakan ini dapat kita lakukan dengan memberikan perlindungan terhadap hak-hak perempuan dan anak dari segala bentuk kekerasan, baik verbal maupun non verbal.

“Stop kekerasan yang dilakukan baik personal, komunal, maupun kekerasan yang dilakukan oleh negara. Ciptakan budaya damai di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, berbangsa dan bernegara,” ujarnya. (ima)

Ingin Majukan Perempuan Melalui Media, Nasyiah Kota Batu Luncurkan Majalah Az Zahra

azzahra3

Batu - Andil perempuan dalam perkembangan media masih terbilang sedikit. Padahal media memiliki peranan penting dalam segala lini, termasuk memajukan dunia perempuan sendiri. Informasi yang disampaikan bisa mengubah mind set siapa saja. Sayangnya, belum banyak peran yang diambil perempuan. Perempuan lebih banyak menjadi obyek berita dan sedikit yang berperan sebagai subyek. Atas dasar itulah, Sabtu (20/9/2014), Departemen Kominfo PDNA Kota Batu meluncurkan Majalah Az Zahra di Rumah Makan Kertasari, Batu, Jawa Timur.

Peluncuran Majalah Az Zahra ditandai dengan penyematan tanda jurnalis oleh Rukmini MM, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur kepada Rahma Mawardi sebagai Pimred Az Zahra dan Karima Sindu sebagai Redaktur pelaksana. Dilanjutkan dengan tembakan confetti dan pemutaran movie profile Az Zahra, serta aksi catwalk untuk memperkenalkan Majalah Az Zahra volume pertama. Sebanyak 175 undangan yang berasal dari tokoh legislatif, pemerintah, ormas dan LSM serta anggota PDM dan PDA kota Batu mendapatkan Majalah Az Zahra secara gratis.

Pimred Az Zahra, Rahma Mawardi memberi apresiasi dan kebanggaannya atas lahirnya media sosial dakwah. “Hari ini kita menyaksikan sebuah sejarah baru. Sejarah lahirnya media kita bersama. Berdakwah dengan pesona, media yang lahir dari Nasyiatul Aisyiah, tapi bisa diterima oleh semua kalangan. Dari, oleh, dan untuk kita semua, Az Zahra diciptakan,” ujar perempuan yang berprofesi sebagai programming TV tersebut. Menurut Rahma, kader Nasyiah jangan hanya menjadi pembaca, tetapi hendaknya juga menjadi penulis. “Kabarkan kepada dunia, insya Allah semuanya berkah,” pungkasnya.

Pada kesempatan itu juga diselenggarakan talkshow Pengaruh Media Terhadap Perempuan. Talkshow menghadirkan Dr. Sugiarti (praktisi pendidikan UMM), Sayekti Pribadiningtyas (psikolog), serta Hanna Pratiwi (praktisi media). (ima)

Paralegal Nasyiatul Aisyiyah, Berdakwah Mengurangi Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

paral

Jakarta - Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak setiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada tahun 2013 terjadi peningkatan jumlah kasus kekerasan terhadap anak kurang lebih 60% dari tahun 2012. Sebanyak 3.023 kasus pelanggaran hak anak terjadi di Indonesia dan sekitar 1.620 kasus merupakan kekerasan seksual. Pada kasus kekerasan terhadap perempuan, kasus KDRT menempati angka tertinggi di tahun 2013 dengan 11.719 kasus dan 64 % dari kasus KDRT merupakan kasus kekerasan terhadap istri. Kasus kekerasan di luar ranah keluarga juga banyak terjadi, tercatat 2.507 kasus adalah kasus kekerasan dalam pacaran (KDP), 844 kasus kekerasan terhadap anak perempuan, dan 667 kasus kekerasan dalam relasi personal lain. Dari kasus-kasus tersebut, sebanyak 39 % merupakan kekerasan fisik, 29 % kekerasan psikis, 26 % kekerasan seksual, dan 6 % kekerasan ekonomi.

Berdasarkan fakta tersebut, Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi otonom putri Muhammadiyah yang mempunyai tagline ramah perempuan dan anak, berusaha berkontribusi aktif dalam pencegahan maupun penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, salah satunya melalui pembentukan paralegal komunitas. Mengapa berbasis komunitas? Menurut Ketua Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) Norma Sari S.H., M.Hum, keberadaan komunitas sesungguhnya adalah tantangan yang bisa menjadi kekuatan jika komunitas itu digerakkan, sehingga berbagai elemen sub sistem sebuah organisasi bisa saling mendukung.

Paralegal Nasyiatul Aisyiyah diharapkan dapat membantu perempuan dan anak korban kekerasan untuk memperluas akses keadilan dan hak-haknya sebagai korban. Masih banyak hambatan yang menghalangi mereka para korban kekerasan untuk memperoleh keadilan dan mendapatkan haknya. Hambatan tersebut dapat berupa hambatan budaya yang meliputi perspektif dirinya sebagai korban, perspektif aparat penegak hukum dan perspektif masyarakat maupun hambatan pada sistem peradilan.

Dalam usaha pembentukan paralegal komunitas, pada Jum’at-Ahad (12-14/9/2014) PPNA menyelenggarakan pelatihan paralegal untuk kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tahap I. Pelatihan tahap II (lanjutan) akan diselenggarakan bulan Desember mendatang. Kader Nasyiatul Aisyiyah yang mengikuti pelatihan paralegal diberikan pengetahuan secara teknis dan praktis bagaimana menghadapi kasus-kasus hukum yang sering terjadi di tengah masyarakat terkait persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Norma yang juga dosen hukum di Universitas Ahmad Dahlan menyebutkan bahwa paralegal merupakan salah satu dakwah yang dipilih oleh Nasyiatul Aisyiyah. Keberadaan paralegal menjadi penting karena tidak semua orang menggeluti dunia hukum. Poinnya adalah bagaimana agar persoalan hukum bisa dicover oleh mereka yang bukan berasal dari background pendidikan hukum sehingga mampu mengurai kasus kekerasan perempuan dan anak di tengah masyarakat menjadi penting dilakukan oleh paralegal.

Banyak hal yang menyebabkan perempuan berada dalam harkat dan martabat yang tidak seharusnya, baik disebabkan struktur politik, budaya, atau bahkan penafsiran agama yang tidak sesuai. Dengan pembentukan paralegal komunitas, Norma berharap agar mereka mampu menjadi pemantik bagi seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah se-Indonesia untuk melakukan berbagai upaya pemberdayaan masyarakat, terutama dalam melindungi hak-hak kaum perempuan dan hak anak yang menjadi korban kekerasan maupun mengalami bentuk ketidakadilan lainnya secara hukum. Tujuan jangka panjang dari program ini adalah terbentuknya Pusat Belajar Keluarga (Family Learning Center) di komunitas dimana paralegal Nasyiatul Aisyiyah berada, sebagai upaya mengurangi angka kasus kekerasan yang dari tahun ke tahun semakin tinggi di Indonesia. (orien/ima)

Departemen Kominmas Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah-2013-