Embrio Nasyiatul Aisyiyah : Perkumpulan Siswa Praja Wanita (SPW)

22 Mei 2020
Penulis : PP NA


Sejarah tidaklah lompat dari ruang kosong. Fakta historis selalu bertalian erat dengan masa lalu. Begitu pula ketika membaca fakta historis Nasyiatul Aisyiyah (NA) yang kini telah genap berusia 89 tahun. NA tidak serta-merta hadir sebagai organisasi perempuan remaja yang langsung mapan. Terdapat banyak relung historis sebelum akhirnya pada 16 Mei 1931 secara resmi digunakan nama Nasyiatul Aisyiyah untuk organisasi ini.

 

Siswa Praja

Perkumpulan yang digagas oleh Soemodirdjo (Pak Sumo) pada tahun 1919 adalah Siswa Praja (SP). Demikian mengacu pada sumber Bisjron Ahmadi AW dalam, “Bustanul Athfal Jogjakarta dari Masa ke Masa,” yang dimuat dalam buku Peringatan 40 Tahun Muhammadijah, 1952, hal. 61).

Akan tetapi sumber lain memberikan informasi yang sedikit berbeda. Seorang penulis dengan nama pena “Tante We” menulis bahwa setelah pembentukan SP, faktor jenis kelamin menjadi pertimbangan untuk memecah organisasi ini menjadi dua: Siswa Praja Prija (SPP) dan Siswa Praja Wanita (SPW) (lihat Tante We, “Riwajat N.A.” Taman Nasjiah, no. 3, Th. II, September 1940).

Meskipun sumber Bisjron AW menegaskan bahwa perkumpulan yang pertama kali digagas oleh Pak Sumo adalah Siswa Praja (SP), tetapi dalam perkembangan berikutnya ia sejalan dengan penegasan Tante We bahwa faktor jenis kelamin menjadi alasan untuk membagi perkumpulan menjadi dua (SPP dan SPW).

Sumber Bisjron AW kemudian memberikan informasi yang cukup signifikan, yaitu tentang struktur pertama SPP dan SPW. Disebutkan bahwa struktur pertama SPP adalah sebagai berikut: Achsan (ketua), Abdullah (wakil), Thohir (penulis), dan Harun (keuangan). Sedangkan struktur pertama SPW adalah: St. Washilah (ketua), St. Umnijah (wakil), St. Djuhainah (sekretaris), dan St. Zuchrijah (keuangan).

 

Siswa Praja Wanita

Struktur pertama SPW diisi oleh empat remaja putri, yaitu St. Washilah, St. Umnijah, St. Djuhainah, dan St. Zuchrijah. Kemudian, dalam organisasi SPW dibentuk sub-sub struktur yang meliputi: 1) Tholabussa’adah, 2) Tajmilul Achlaq, dan 3) Dirasatul Banat.

Setiap bagian (sub-struktur) SPW memiliki kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda. Seperti kegiatan-kegiatan di bawah Oeroesan Tholabussa’adah meliputi: mengaji atau cursus agama, shalat subuh berjama’ah, shalat tarawih keliling, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan di bawah Oeroesan Tajmiloel Achlaq seperti: berderma, latihan berkumpul (rapat) dan berpidato, dan lain-lain. Sedangkan kegiatan-kegiatan Oeroesan Dirasatoel Banat seperti: mengumpulkan anak-anak kecil di sebuah rumah (nantinya menjadi bakal Mushalla ‘Aisyiyah) untuk dibimbing membaca huruf Hijaiyyah, mengaji surat-surat pendek Juz ‘Amma—istilah populer pada waktu itu “Ngaji Turutan”, mendengarkan dongeng, dan lain-lain.

Dari ketiga Oeroesan dalam SPW, tampaknya Oeroesan Dirasatul Banat yang berhasil menyelenggarakan pendidikan anak pra sekolah yang terus menerus digeluti oleh para aktivis organisasi ini. Mula-mula diselenggarakan di sebuah rumah di Kampung Kauman, terutama pada masa kepemimpinan Siti Washilah. Namun, baru sekitar 5 bulan memimpin SPW, Siti Washilah mengundurkan diri karena ia menikah (dengan KRH Hadjid). Dengan alasan ini, dapat diketahui bahwa batas keanggotaan SPW adalah remaja putri yang belum menikah.

Bagian dari Struktur Aisyiyah

Perlu diketahui, sebelum menjadi organisasi otonom (ortom) di Muhammadiyah, Aisyiyah adalah Bahagian (Majelis/Departemen) yang secara khusus mewadahi aktivitas ibu-ibu atau perempuan dewasa di Muhammadiyah. Gerakan Aisyiyah mulai massif pasca Kongres ke-11 (1922) lewat kebijakan propaganda pendirian Muhammadiyah di luar Yogyakarta yang harus diiringi dengan pembentukan pengurus Aisyiyah.

Berdasarkan kaidah organisasi pada waktu itu, struktur organisasi Aisyiyah harus dilengkapi dengan sub-struktur atau yang dikenal dengan istilah Oeroesan. Badilah Zuber (1940) mencatat ada 5 Oeroesan dalam struktur Aisyiyah: 1) Oeroesan Nasyiah (Siswa Praja Wanito), 2) Oeroesan Madrasah, 3) Oereosan Tabligh, 4) Oeroesan Wal-‘Ashri, dan 5) Oeroesan Dzakirat.

Ketika gerakan propaganda pendirian Aisyiyah bersamaan dengan Muhammadiyah di luar Jawa mulai menggeliat, maka nama Nasyiatul Aisyiyah mulai bergulir untuk mengganti SPW. Sumber majalah Taman Nasjiah menyebutkan bahwa pada tahun 1929, pada masa kepemimpinan St. Zoechrijah, SPW diganti menjadi Nasji’atoel Aisjijah (Nasji’ah). Secara subtantif, nama ini jelas mengisyaratkan mode perkaderan Aisyiyah. Secara bahasa, Nasji’atoel Aisjijah dapat diartikan sebagai “kader Aisyiyah yang masih dalam tahap pertumbuhan.”

Perubahan nama SPW karena nama tersebut masih menggunakan istilah Jawa. Padahal perkembangan Aisyiyah dan juga SPW sudah cukup luas ke luar pulau Jawa. Tentu penyebutan istilah Jawa akan menyulitkan bagi beberapa kalangan, terutama bagi para anggota Muhammadiyah-Aisyiah di luar etnis Jawa. Sumber Badilah Zuber mempertegas alasan pengubahan nama SPW menjadi Nasji’atoel Aisjijah (lihat “Tarich Moehammadijah dan ‘Aisjijah,” Soeara Aisjijah no. 9-10/Oct 1940, hal. 41).

Maka digunakanlah istilah dalam Bahasa Arab—agar umat Islam pada umumnya—dengan mudah mengucapkan Nasji’atoel Aisjijah (disingkat Nasji’ah). Nomenklatur resmi Nasji’atoel Aisjijah atau Nasji’ah lewat keputusan Congres Muhammadiyah ke-20 pada 1931..

Tulisan ini telah dimuat di IBTimes dengan judul Emrio NA : Perkumpulan Siswa Praja Wanita (SPW) - 

Contact Us

Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah

Kantor Yogyakarta

Jalan KHA. Dahlan No 103, Yogyakarta
Kode Pos 55262
  (0274) 411610

Kantor Jakarta

Jalan Menteng Raya No 62, Jakarta
Kode Pos 10340
  (021) 39899789

Find Us