Kesejahteraan Anak Masa Pandemi Covid-19

Kesejahteraan Anak Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Diyah Puspitarini *)

Akhir tahun 2019, gempuran Covid-19 membuat kehidupan orang dewasa yang bekerja berubah secara eksponensial sehingga berdampak kepada kesejahteraan mereka. Efek yang kita sadari belakangan, ternyata hal ini terjadi pula pada kehidupan anak-anak. Tulisan Kids Harbor dalam Teaching Children About Wellness: 5 Areas Focus (2020) menyebutkan, para ahli kesehatan perilaku merekomendasikan untuk membangun lima dimensi kesejahteraan pada anak-anak, yaitu sosial, fisik, emosional, intelektual, dan spiritual. Tulisan ini akan mengeksplorasi bagaimana teknologi menjadi penting selama masa isolasi dan social distancing dan digunakan untuk meningkatkan dan mempertahankan kesejahteraan bagi anak-anak di masa pandemi Covid-19 ini.

Pertama, kesejahteraan sosial. Bermain adalah bagian penting dari perkembangan fisik, emosional, dan sosial anak. Penutupan berbagai arena permainan dan rekreasi terjadi hampir di seluruh tempat. Dunia menjadi semakin terbatas setiap hari. Anak-anak yang biasa bermain sepak bola di halaman kampung atau anak-anak yang bersepeda pun saat ini hilang.

Selama pandemi Covid-19, Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika (2020) merekomendasikan bahwa pengasuhan dalam rangka pengaturan untuk latihan social distancing menghindari teman bermain untuk anak-anak. Sisi positif yang didapatkan, keluarga akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk bersama, berjalan, bersepeda, dan menyelesaikan pekerjaan sekolah. Di waktu yang tersedia, orang tua didorong tetap melakukan sosialisasi melalui permainan, seni dan kerajinan, mendengarkan musik, serta kegiatan lainnya yang bersifat refreshing. Orang tua juga dapat berbagi waktu dengan anak-anak dengan ikut menonton program televisi atau menggunakan aplikasi pendidikan. Interaksi positif yang terjadi antara orang tua dan anak-anak adalah bisa meningkatkan kesehatan.

Kedua, kesejahteraan fisik. Sampai saat ini, anak-anak tidak berada dalam kelompok berisiko tinggi Covid-19 (CDC, 2020). Anak-anak, bagaimanapun, rentan terhadap penyakit dari virus dengan tingkat keparahan yang lebih rendah. AAP (2020) merekomendasikan bahwa bayi baru lahir, bayi, dan anak kecil terus dilihat secara langsung oleh penyedia perawatan primer untuk vaksinasi rutin dan pemantauan kesehatan yang baik. Dokter anak didorong memantau penyebaran Covid-19 di masyarakat. Jika perlu, memberikan vaksinasi rutin anak di kemudian hari.

Ketiga, kesejahteraan emosional. Orang tua harus membantu anak-anak menjaga kesejahteraan emosional. Selain itu, orang tua juga dapat memberikan anak-anak pengawasan dengan memberi tahu mereka apa yang dapat dilakukan untuk membantu membatasi penyebaran virus (misalnya, mencuci tangan dan batuk serta bersin ke lengan baju atau tisu). Di sini orang tua hendaknya mengenali tanda-tanda stress pada anak. Anak-anak dapat menunjukkan stres dan kecemasan dengan kecemasan berlebihan, sulit tidur, ketidakmampuan berkonsentrasi, dan kebiasaan makan yang tidak sehat. Orang tua dapat membantu mengurangi stres dengan tetap tenang, menciptakan rutinitas sehari-hari, dan berbicara dengan anak-anak tentang Covid-19. Mengurangi paparan Covid-19 pada anak-anak di televisi dan liputan media sosial, juga dapat membantu menyediakan lingkungan yang santai dan menentramkan.

Keempat, kesejahteraan intelektual. Gelombang pembelajaran online telah terjadi di berbagai negara, terutama yang terdampak Covid-19, termasuk di Indonesia. Banyak sekolah menawarkan, bahkan mewajibkan pembelajaran online (virtual) kepada siswa sebagai sarana melanjutkan pendidikan selama sisa tahun akademik. Guru yang enggan mengajar online, tidak punya banyak pilihan selain menggunakan teknologi yang sudah berusia satu dekade ini. Beberapa guru mungkin pernah mengalami ketakutan dan kegelisahan dengan mentransfer ruang kelas dari ruang terbuka mereka menuju pembelajaran secara online, tetapi mayoritas melakukannya dengan langkah cepat dan dalam waktu singkat; namun dalam jangka panjang pada akhirnya semua orang tampaknya akan beradaptasi dengan baik.

Hanya saja, yang terjadi saat ini, kesenjangan digital lebih jelas terlihat dari sebelumnya (Guernsey, Ishmael, & Prescott, 2020). Anak-anak yang mahir menggunakan komputer siap untuk itu. Instruktur dan metode pengajaran biasanya akan terlihat sedikit ketinggalan. Tentunya selama dan pascapandemi Covid-19 ini seolah ada harapan bahwa model-model pendidikan baru akan muncul, perubahan pun bisa bermanfaat di masa yang akan datang.

Kelima, Kesejahteraan spiritual. Dalam masa ini, banyak keluarga yang berkumpul, meski biasanya terpisah secara fisik dari kelompok agama mereka. Hampir semua pemeluk agama di Indonesia mengalami hal ini. Tempat-tempat ibadah mengakui kebutuhan spiritual umat beriman dan banyak yang menciptakan akses ke jamaah mereka melalui media sosial dan hampir semua tempat ibadah pun juga tutup demi menjaga agar penyebaran Covid-19 ini tidak meluas.

Dalam kondisi ini, peran orang tua juga sangat penting untuk menjelaskan perubahan kondisi peribadatan, terutama bagi pemeluk agama Islam yang saat ini tengah memasuki bulan suci Ramadan. Biasanya anak-anak akan senang menghabiskan waktu di masjid, tetapi saat ini semua aktivitas keagamaan dilakukan di rumah. Tentunya, pemahaman yang benar kepada anak akan membawa kondisi anak lebih stabil dalam menyikapi perubahan yang terjadi di dalam pandemik ini.

Tulisan Karen Goldschimidt yang berjudul The Covid-19 Pandemic: Technology Use To Support The Wellbeing Of Children (2020) menyebutkan bahwa teknologi menjadi penting kebutuhannya selama pandemi Covid-19. Selama masa isolasi dan social distancing, dunia bergantung pada teknologi untuk belajar, hidup, dan tetap terhubung. Teknologi dirasa paling baik digunakan untuk meningkatkan dan mempertahankan kesejahteraan sosial, fisik, emosional, intelektual, dan spiritual bagi anak-anak, di lingkungan di mana anak-anak bekerja sama dengan orang dewasa. Akan tetapi, yang lebih utama adalah pendampingan dan pola pengasuhan dari orang tua atas aktivitas anak. Hal ini dipandang lebih banyak menghadirkan kebaikan dan kesejahteraan pada anak-anak.

Dampak pandemi Covid-19 sepertinya akan berlangsung cukup lama. Semoga banyak korban yang ada ini tidak sia-sia dan mendorong kita ke arah cara hidup baru yang akan lebih baik dengan pemanfaatan teknologi, tentunya untuk meningkatkan kesejahteraan bagi semua orang. 

*) Diyah Puspitarini, Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Muhammadiyah dan Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

Tulisan ini telah dimuat di website Suyanto.id dengan judul Kesejahteraan Anak Masa Pandemi Covid-19

Berita terkait: