Risalah Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah (1)

Risalah Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah (1)

RISALAH KELUARGA MUDA TANGGUH NASYIATUL AISYIYAH (1)

Diyah Puspitarini

Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah

 

Historisitas

Gagasan tentang Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah ini muncul pada Rapat Kerja Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah pada tanggal 5-6 November 2016 di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah jalan Menteng Raya 62 Jakarta. Ide awal muncul karena dalam sebuah gerakan diperlukanlah adanya branding sebagai arah dari periodisasi sehingga akan sangat mudah untuk diejawentahkan dalam program kegiatan Nasyiatul Aisyiyah. Payung besar atau branding itu bernama Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah (KMTNA) yang memiliki 10 pilar sebagai penyangga.

Mengapa Keluarga, sementara banyak anggota Nasyiatul Aisyiyah yang belum berkeluarga? Keluarga ini adalah lambang dari kesatuan gerak dari elemen social terkecil dalam kehidupan, dimana keluarga juga memiliki peran sentral sebagai kekuatan pendidikan, ekonomi, social dan juga agama. Keluarga juga mengibaratkan kemajuan bersama serta kolaborasi antar setiap anggota dalam keluarga tersebut, yang terdiri dari Ibu, Bapak dan Anak. Maka istilah yang dipakai dengan konotasi Keluarga ini bagi anggota Nasyiatul Aisyiyah bisa diartikan dua hal, yaitu bisa sebagai Ibu/Istri atau juga sebagai anak. Kata keluarga yang dimunculkan karena Nasyiatul Aisyiyah tidak ingin menonjolkan dari satu sisi peran saja dalam anggota keluarga tersebut, namun keberadaan anggota NA dalam keluarga itu menjadi pelopor dan penggerak untuk mensinergikan kemampuan setiap anggota keluarga dengan posisi kesetaraan yang sama. Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi perempuan muda Muhammadiyah yang ramah terhadap perempuan dan anak, tentunya juga tidak mengesampingkan kepedulian gerakan terhadap pertumbuhan anak, termasuk dalam konteks KMTNA tersebut. Faktanya kegiatan Nasyiatul Aisyiyah dilevel pimpinan manapun banyak anggotanya yang berkegiatan NA dengan mengajak anaknya. Hal ini menjadi spirit bagi setiap anggota NA agar yang maju dalam pikiran dan gerakan tidak hanya ibunya saja, tetapi membelajarkan anak sejak dini akan menjadi polarisasi pengalaman bagi anak tersebut, sehingga sang anak juga belajar elaborasi dengan aktivitas Ibu. Jangan sampai ada istilah, anak menjadi alasan ibu untuk tidak beraktivitas. Maka dengan determinasi ini pula kolaborasi dan saling memahami antar anggota keluarga sangat peting, terutama peran ibu dan bapak.

Diksi “Muda” dalam KMTNA ini mensiratkan tentang usia anggota Nasyiatul Aisyiyah yang rata-rata ketika memulai kehidupan keluarga masih berusia muda dimana sesuai dengan jenjang usia anggota NA yaitu antara 17-40 tahun. Dalam konteks kehidupan keluarga, maka pada usia tersebut setiap keluarga sedang pada tahap mematangkan pola kehidupan, baik anggotanya ataupun bentuk dari keluarga tersebut. Pada kondisi ini anggota NA dalam posisinya di keluarga tersebut, biasanya sedang mengalami proses kehidupan yang tidak mudah, baik sedang memulai hidup baru, menikah, melahirkan dan mendidik anak yang masih dalam tahap pertumbuhan. Disamping makna “Muda” juga menggambarkan elastisitas diri terhadap dinamika kehidupan serta penetapan terhadap kondisi dalam berkeluarga, seperti memantapkan karir, jabatan, ekonomi hingga peran dan kedudukan individu tersebut dalam keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitar yang lebih besar, istilah lainnya adalah eksistensi diri. Dengan semangat yang menggebu, maka predikat “Muda” ini akan menjadikan sebuah gerakan mengalir dengan cepat dan massif.

Pemaknaan kata “Tangguh” bukan hanya sebatas kuat dan mampu tahan terhadap ujian dan cobaan. Namun Nasyiatul Aisyiyah mendasarkan istilah “Tangguh” sebagai kemampuan untuk bertahan dan tetap istiqomah meskipun keluarga tersebut menghadapi dinamika rumah tangga yang sangat pelik. Di Indonesia akhir-akhir ini mencatat bahwa pernikahan yang rentan terjadi perceraian adalah pernikahan dengan usia muda, atau antara 0-5 tahun, ini artinya keluarga yang dibangun pun juga masih usia muda (Izzatul Fitriyah, 2011: 5). Maka biasanya pada usia pernikahan atau keluarga yang masih muda ini perlu adanya penguatan baik dari dalam diri anggota keluarga hingga polarisasi di lingkungan sekitar juga mendukung, salah satunya peran ormas Nasyiatul Aisyiyah yang memiliki tagline gerakan ramah perempuan dan anak.

Sementara itu, mengapa KMTNA ini terdapat 10 pilar? Pilar diartikan sebagai tiang yang kuat, dasar yang pokok dan juga penopang atau sokoguru dalam sebuah bangunan, gerakan, atau organiasi. Pilar ini menjadi spirit dan nilai yang secara otomatis harus menguatkan KMTNA tersebut. Pilar ini idealnya ada di setiap tipe keluarga, karena konteksnya juga disesuaikan dengan kondisi keluarga terbuka di era saat ini, namun nilai-nilai ini juga secara otomatis menjadi pijakan yang kuat bagi setiap keluarga ketika menjalani dinamika kehidupan. Ke sepuluh pilar tersebut adalah: (1) Kokoh Akidah dan Akhlakul Karimah; (2) Sehat Jasmani, Rohani, dan Lingkungan; (3) Kemandirian; (4) Keadilan Dengan Semangat Al-Ma’un; (5) Misi Perdamaian; (6) Demokrasi; (7) Anti Kekerasan; (8) Kesetaraan Akses; (9) Ramah Lingkungan/Ecofamily; (10) Tanggap Bencana. Masing-masing pilar ini akan menjadi spirit value dalam keluarga dan juga pada program kegiatan Nasyiatul Aisyiyah pada periode ini.

Kata keluarga tangguh merujuk pada bagaimana keluarga menjalankan fungsi dan perannya dalam segala aspek (penanaman aqidah dan akhlak/nilai individu, sosial, pendidikan, kesehatan, lingkungan dan kemandirian ekonomi) berlandaskan pada nilai-nilai Islam agar tercapai keluarga ideal yang bahagia, sejahtera dan dapat menjadi pilar bagi bangsa berkemajuan. Dengan demikian, Keluarga Muda Tangguh adalah: “Keluarga muda yang memiliki relasi harmonis antara anggota keluarga, dan menjalankan fungsi dan perannya masing-masing dalam aspek agama, sosial, pendidikan, kesehatan, lingkungan dan ekonomi, berlandaskan pada nilai-nilai Islam untuk mencapai keluarga ideal sebagai pilar bagi bangsa yang berkemajuan”.

Berdasarkan paparan di atas, maka Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah periode 2016-2020 menetapkan Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah sebagai branding/tagline serta paying besar seluruh program kerja, dimana 10 pilar ini adalah spirit value dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan. Selama ini Nasyiatul Aisyiyah belum pernah melakukan konseptualisasi gerakan yang mengangkat isu keluarga, sementara saat ini semakin banyak anggota NA yang sudah berkeluarga dan membutuhkan guideline yang lebih aplikatif tentunya dengan pemaknaan nilai yang jernih, mendalam, serta sesuai dengan konteks yang dibutuhkan saat ini.

 

Kedudukan KMTNA

Dalam setiap periode kepemimpinan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah selalu melakukan arah gerak yang lebih implementatif sebagai dasar pembuatan program dan juga tujuan periodisasi yang akan dicapai (Draft Buku Sejarah Nasyiatul Aisyiyah, 2019). Program dari setiap periode merupakan keputusan dari Muktamar dan bisa juga didasarkan pada kondisi, isu serta menjawab kebutuhan saat ini.  Program Nasyiatul Aisyiyah tetap mengacu pada visi misi serta asas gerak Nasyiatul Aisyiyah, yaitu: (1) Asas Keislaman; (2) Asas Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar; (3) Asas Pemberdayaan Kader; (4) Asas Kemasyarakatan; (5) Asas Ketinggian Ilmu dan Kecakapan (AD/ART Nasyiatul Aisyiyah).

Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah periode 2016-2020 ini menjadikan Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah (KMTNA) sebagai branding gerakan dimana kedudukannya sebagai payung bagi program kegiatan Nasyiatul Aisyiyah yang pilarnya harus dijadikan sebagai spirit dan nilai dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan, yang harapannya akan terus digulirkan dan dikembangkan nilai tersebut di periode-periode yang akan datang. KMTNA telah disepakati dalam Rapat Kerja PP NAsyiatul Aisyiyah pada 5-6 November 2016 di Jakarta. Isi dan konsep dari KMTNA juga telah dibahas dalam Tanwir 1 NA di Banjarmasin yang membahas tentang pengertian, konsep, serta gambaran 10 pilar KMTNA. Selanjutnya dalam Tanwir 2 NA di Palembang KMTNA dibahas dalam dataran gambaran implementasi yang bisa dilakukan di berbagai level pimpinan serta jejaring yang dilakukan.

Maka sebagai organisasi, KMTNA ini juga menjadi gerakan yang sifatnya usaha atau kegiatan dalam lapangan social yang menjangkau masayarakat luas. Begitu juga dengan  bentuk kegiatannya, karena gerakan maka harus ada masifikasi, pemerataan pemahaman, langkah bersama di semua level pimpinan Nasyiatul Aisyiyah. Bagaimana dengan batas waktu? Tentunya KMTNA ini akan menjadi tagline yang akan bersifat lama jika nilai tersebut dirasa masih relevan, sementara dapat dilakukan perubahan manakala terdapat nilai yang tentunya harus mengalami perubahan dan penafsiran yang baru.

 

Implementasi KMTNA

Memahami KMTNA ini harus memakai dua pendekatan, yaitu pendekatan internal NA dan pendekatan umum atau eksternal. Pertama, pendekatan internal NA, maka KMTNA ini sebagai brading gerakan yang didalamnya terdapat program kegiatan yang relevan dan sesuai dengan pilar, sekaligus pilar ini juga sebagai spirit dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh NA. Kedua, pendekatan umum atau eksternal, maka melihat pilar KMTNA ini sebagai manifestasi nilai kehidupan dalam berkeluarga yang relevan dengan situasi dan kondisi keluarga saat ini.

Implementasi adalah suatu tindakan atau pelaksana rencana yang telah disusun secara cermat dan rinci (matang). Tak hanya sekedar aktivitas, implementasi merupakan suatu kegiatan yang direncanakan serta dilaksanakan dengan serius juga mengacu pada norma-norma tertentu guna mencapai tujuan kegiatan. Implementasi KMTNA ini yang dimaksudkan adalah panduan aplikatif yang merupakan strategi dari setiap pilar KMTNA secara khusus dan juga program serta kegiatan yang lebih praktis dapat dilakukan, disamping turunan dari konsep KMTNA yang telah disepakati dan menjadi salah satu hasil dari Tanwir 2 NA di Palembang.

Apakah KMTNA ini memunculkan program yang baru? Karena sifatnya yang lebih fleksibel maka KMTNA ini bisa menjadi payung besar dari program NA yang telah direncanakan dan juga bisa menjadi rujukan untuk program kerjasama atau pun program situasional yang belum ada dalam program kerja NA yang telah dibuat. Seperti contoh program stunting ini muncul dipertengahan jalan karena situasional, secara definitive tidak ada departemen di PPNA yang implisit bergerak pada ranah kesehatan, maka keberadaanya menjadi salah satu bagian dari pilar kedua yaitu sehat jasmani, rohani dan lingkungan. Yang kemudian berbagai kegiatan tentang stunting memakai payung program KMTNA.

Karena implementasi ini adalah sistem, maka turunannya adalah bentuk kegiatan, penyelenggara, tema kegiatan serta minta kerjasama yang dijelasakan dalam setiap pilarnya. Namun ada hal yang lebih penting daripada itu, bahwa KMTNA ini bisa juga menjadi konsep atau model gerakan ketangguhan keluarga yang sesuai dengan kebutuhan dan situasi saat ini, maka pilar tersebut sangat menarik untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.   

 

 

Berita terkait: