Kepemimpinan, Inter-Faith dan Persemakmuran

08 Agustus 2019
Penulis : PP NA


Kepemimpinan, Inter-Faith dan Persemakmuran*



Pada (13/7-28/7) Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiah berkesempatan mengikuti 3rd Leadership for Senior Multifaith Women Leaders 2019 Short-Terms Awards yang diselenggarakan oleh Australia Award Indonesia (AAI) bersama 25 perempuan senior lintas-iman berbasis ormas, akademisi serta pegiat NGO (Non Goverment Organization). Kursus atau studi singkat ini menjadi signifikan dan krusial karena mempunyai pengaruh besar bagi pertemuan ide antar peserta, pengalaman berjejaring dalam menghadapi problematika sistem serta belajar kehidupan/kultur negara Australia. 

Kursus ini terdiri atas beberapa segmen mulai dari belajar leadership journey (pengalaman perjalanan kepemimpinan), respect others (menghargai), women political participation (partisipasi politik perempuan) di lokal government, well-being (sejahtera tubuh dan pikiran), multiculturalism (multikulturalisme), teknik mentoring (kaderisasi) sampai dengan pembuatan proposal yang baik. 

Tentu pembelajaran ini menjadi momen reflektif juga merejuvenasi pengetahuan karena pengalaman jejaring sesama perempuan pada prinsipnya mempunyai keragaman hasil dan metode yang digunakan. Perjalanan kepemimpinan itu sejatinya dimulai dari mengidentifikasi ketimpangan publik yang terjadi di sekitar kita utamanya pada perempuan, anak-anak dan kaum difabel. Mereka tidak jarang menjadi korban perdagangan manusia melalui tawaran bekerja di luar negeri (TKW), akses layanan kesehatan-pendidikan-ekonomi yang terhambat, Perda Syariah yang tidak sesuai peruntukkan, kekerasan dalam menggunakan media sosial, serta perempuan penyintas yang hidup di area konflik dan bencana. Belajar kelimuan di negara persemakmuran ini merupakan kesempatan strategis, karena sistim pemerintahannya yang lebih rapih dan efisien, fasilitas publik memadai dan kerangka pikir yang sangat menjunjung tinggi HAM. 
 

Australia merupakan negara yang menganut paham demokrasi liberal. Mereka sangat terbuka menjunjung tinggi kebebasan berpendapat, berserikat dan toleransi terhadap nilai-nilai beragama. Meski demikian, negara jajahan/ koloni United Kingdom (UK) ini tidak memilih pemimpinnya secara langsung melainkan dipilih melalui partai politik. Sehingga warga di sini mempercayai bahwa lembaga tersebut merupakan wadah yang mampu mewakili aspirasi serta representasi mereka. Setiap warga memilih anggota parlemen berbasis pada di mana mereka tinggal karena negara ini terbentuk dengan sistim federasi. Di sini partisipasi politik perempuan melalui keanggotaan partai politik, Partai Liberal 23% anggotanya adalah perempuan yang dihasilkan melalui kontestasi, sementara Partai Buruh sebaliknya, 47% digagas melalui penyediaan kuota (affirmative action).
 

Cr. Stephanie Amir, salah satu Councillor dari City Of Darebin mengatakan bahwa mayoritas perempuan di kotanya mampu efektif dalam bekerja sebagai pengambil kebijakan di unit pemerintah dan sektor swasta termasuk penyediaan fasilitas olahraga sepakbola untuk perempuan dan pemberian imunisasi gratis kepada anak2 sesuai dengan anjuran WHO. City of Darebin ini juga menjadi kota percontohan terkait kuatnya sikap saling bertoleransi dalam berinteraksi antar agama, suku dan ras. Sehingga belajar metode penerapan sistim multiculturasm menjadi penting di sini. Isu yang dibangun untuk memperkuat jalinan interfaith adalah berbagai hal yang akrab dengan kehidupan sehari-hari yakni melalui food, sports dan music


Hal ini juga dikuatkan oleh Coral Ross, Presiden Australia Local Government Women's Association (ALGWA) mengatakan bahwa kesempatan memimpin adalah langkah keberanian untuk mewujudkan tata kehidupan dunia yang lebih baik utamanya agar kebutuhan ibu dan anak terpenuhi dan terfasilitasi secara lengkap. 

Kami juga dibekali pelajaran praksis dalam mengelola pendampingan terhadap korban kekerasan. WIRE, konsorsium layanan kebutuhan perempuan, memberikan informasi mengenai teknik-teknik pemberian pendampingan bagi perempuan yang mengalami ketidakadilan dalam sistem pemerintahan ataupun dalam kehidupan sosiologis. Mengingat Australia adalah negara yang sangat ramah bagi kaum imigran dari kawasan Timur Tengah dan Asia. Pihak WIRE juga menyampaikan bahwa pendampingan yang mereka lakukan tidak asal-asalan, karena si pendamping juga diberikan teknik pencegahan trauma, karena dengan mendengar kisah penerima ketidakdilan via telepon juga memungkinkan secondary trauma pada di pendamping. Australia hingga kini juga mengalami permasalahan terkait tingginya angka kekerasan terhadap perempuan. Dari hasil pos aduan di WIRE ini disebutkan bahwa, setiap seminggu perempuan ditemukan terbunuh oleh teman dekat atau keluarga dekat. Hingga kini mereka masih menyelidiki penyebab pastinya. Pemerintah Australia sendiri terus melakukan pencegahan terhadap tindak kekerasan terhadap perempuan, anak dan kaum difabel. Setidaknya bila tidak mungkin membasmi, mengurangi frekuensi kasus yang ada.


Kami juga mendapatkan materi dari Thea O Connor, seorang specialist well-being, mengatakan bahwa seorang manusia harus mampu mengidentifikasi alarm keseimbangan dalam tubuhnya. Yakni apabila tubuh ataupun pikiran merasa lelah perlu kiranya mengambil jeda istirahat atau menikmati hiburan. Sehingga fungsi kesejahteraan tubuh akan tergapai kembali. Manakala terlambat mengonsumsi asupan untuk tubuh misalnya, bisa berakibat pada gagalnya fungsi organ dan melemahnya kemampuan berpikir. Para aktivis perempuan, dihimbau untuk disiplin dan patuh dalam mengelola kesejahteraan tubuh dan pikiran.  

Terakhir, Ibu Spica Tutuhatunewa, konsul general Republik Indonesia untuk Victoria dan Tasmania. menyampaikan bahwa perempuan yang bergelut dengan medsos (social media) saat ini lebih banyak terlihat milenial perempuan Indonesia dari segi fisik bukan dari kapasitas. Tentunya ini menjadi tantangan karena sampai hari ini para pegiat perempuan senantiasa mempromosikan kepemimpinan perempuan visioner yang kaya akan kapasitas mumpuni. Untuk itu beliau berpesan bahwa pendidikan tinggi merupakan modal untuk melanjutkan kepemimpinan yang berbudi dan berkeadilan utamanya untuk membangun kesadaran atas berbagai ketimpangan yang terjadi di republik ini. 

Mari kita wujudkan perempuan-perempuan Nasyiatul Aisyiyah produktif yang bernalar cendekia dan berjiwa ksatria tentunya tanpa menanggalkan kewajiban-kewajiban sebagaimana fitrahnya untuk selalu bermanfaat bagi bangsa, persyarikatan dan kehidupan "inti" disekelilingnya.

 

*Nurlia Dian Paramita (Kabid Organisasi PPNA 2016-2020)

Contact Us

Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah

Kantor Yogyakarta

Jalan KHA. Dahlan No 103, Yogyakarta
Kode Pos 55262
  (0274) 411610

Kantor Jakarta

Jalan Menteng Raya No 62, Jakarta
Kode Pos 10340
  (021) 39899789

Find Us