Sambut Tanwir, PP Nasyiah Gelar Diskusi Cegah Stunting

Sambut Tanwir, PP Nasyiah Gelar Diskusi Cegah Stunting

Jakarta - Menyambut Tanwir I Nasyiatul Aisyiyah, Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah mengadakan diskusi publik dengan tema “Pembangunan Gizi dan kesehatan untuk keadilan sosial: Memahami Stunting di Indonesia”. Kegiatan ini diselenggarakan di Auditorium KH Ahmad Dahlan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Rabu (18/10).

MY Esti Wijayati, anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan mengapresiasi respon cepat Nasyiatul Aisyiyah tentang stunting. Menurutnya Nasyiah selangkah lebih maju diantara ormas perempuan lainnya.

“Saya kira Nasyiatul Aisyiyah selalu satu langkah di depan dalam pergerakannya, mulai dari pembahasan mengenai literasi media hingga sekarang pembahasan mengenai stunting” kata MY Esti Wijayati.

Anak stunting disebabkan oleh kurangnya gizi anak sejak dalam kandungan, hal ini disampaikan oleh Dr. Entos Zainal, S.P., MPHM, Kasubdit Promosi Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian BAPPENAS. “Perbaikan gizi ini dapat dilakukan mulai dari anak dalam kandungan, 70% otak anak dibentuk dari kandungan, kalau saat sel telur membelah gizinya kurang maka akan mengakibatkan timbulnya masalah-masalah kesehatan hingga pada akhirnya mengakibatkan stunting”, jelas Entos.

Berbeda dengan Entos, M. Ridwan Hasan dari IMA World Health mengatakan pencegahan stunting tidak dimulai dari 1000 hari melainkan sebelumnya yakni pada saat usia remaja. “Ketika remaja menikah dan kemudian memiliki anak, kemungkinan bayi tersebut tidak mendapatkan pengusuhan atau tidak diurus dengan baik” jelas Ridwan.

Hal ini didukung oleh dr. Marina Damayanti M.KM, Kasubid penanggulangan masalah gizi Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan “Kalau kita melihat proses kenapa seseorang itu terkena stunting, bukan semata-mata dilihat dari masa ibu hamil tetapi saat remaja, karena kita harus menyiapkan dari prakonsepsi” katanya menjelaskan.

Sedangkan menurut Dr. Hj. Metta Desviani, Sp.KJ dari MPKU PP Muhammadiyah, pencegahan stunting bisa dikaitkan dengan masalah kesehatan kejiwaan dalam keluarga. “Jika kesehatan kejiwaan keluarga terganggu, maka akan berdampak pada kesehatan anak. Oleh karena itu masalah kesehatan kejiwaan juga dirasa perlu diperhatikan dalam pencegahan stunting sehingga menghasilkan generasi bebas stunting,” ujarnya.

Bagaimana posisi stunting di Indonesia?

Berdasarkan Global Nutrition Report 2014, Indonesia termasuk dalam 17 negara yang memiliki masalah gizi serius. Hal ini bertentangan dengan data indeks ketahanan pangan (food substainable indeks) tahun 2017 yang mengatakan bahwa pangan di Indonesia jauh membaik. Dari 133 negara di dunia Indonesia menempati urutan 21 untuk jumlah ketahanan pangan, meningkat 50 peringkat dari tahun 2016. Gizi kurang dalam waktu singkat (akut) dapat menyebabkan anak wasting (terlalu kurus untuk tinggi badannya) sedangkan dalam waktu lama (kronis) menyebabkan stunting (tinggi badan kurang untuk umurnya).

Riset kesehatan dasar 2013, mencatat prevalensi stunting nasional mencapai 37,2 %, jumlah ini lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Myanmar (35%), Vietnam (23%), Thailand (16%), Singapura (4%), dan Malaysia ((16%). Dimana secara peringkat Indonesia menduduki peringkat ke lima dari 136 negara untuk jumlah anak dengan kondisi stunting.

Untuk itu, dalam upaya membangun sehat jasmani dan rohani yang termasuk dalam salah satu pilar dari 10 Pilar Keluarga Muda Tangguh Nasyiyah (KMTN) Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah konsen dalam mengkampanyekan pencegahan stunting. Kampanye ini akan digalakkan lewat agenda konsolidasi nasional Tanwir I Nasyiatul Aisyiyah yang akan diselenggarakan pada tanggal 3-5 November 2017 di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. (SB)

Berita terkait: