Usia Strategis pada Anak dalam Upaya Pencegahan Stunting

Usia Strategis pada Anak dalam Upaya Pencegahan Stunting


Nasyiah.or.id, Jakarta - Menindaklanjuti pentingnya pemahaman mengenai pemenuhan gizi di Indonesia, khususnya pencegahan mengenai stunting, Nasyiatul Aisyiyah bekerjasama dengan PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) dan BAPPENAS (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) mengadakan acara bertajuk "Workshop Strategi Pelaksanaan Program Advokasi Nasional untuk Pencegahan Stunting Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah", yang bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Menteng Raya No. 62 Jakarta Pusat, Sabtu, (12/08).


Stunting  merupakan masalah kesehatan, yaitu kurangnya asupan gizi secara kronis dalam waktu cukup lama. Hal ini diakibatkan karena pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.  Dampak stunting pada anak yaitu tinggi tubuh anak tidak mencapai standar pada usianya (terlihat pendek dan atau sangat pendek). Umumnya stunting dapat diketahui ketika anak berada pada usia balita (1-5 tahun).

Dalam workshop, Ketua Umum PERSAGI, dr. Minarto mengatakan bahwa Stunting merupakan masalah kesehatan  yang penting untuk diketahui, terutama bagi orang tua. Sepadan dengan Minato, Kasubid Pemberdayaan dan Gizi Masyarakat, Dr. Entos Zainal berpendapat jika masalah pemberian gizi tidak terpusatkan pada perempuan,

"Jangan seolah masalah gizi hanya perempuan saja yang perlu tahu. Ini adalah masalah keluarga" kata Entos dalam penyampaiannya mengenai Peta Kebijakan Penanggulangan Stunting di Indonesia.


Minarto juga menyebutkan bahwa ada dua bentuk kurang gizi, yaitu kurang gizi kronis dan kurang gizi akut. Kurang gizi kronis ditandai dengan hambatan tinggi badan menurut umur (stunting). Sedangkan kurang gizi akut ditandai dengan menurunnya berat badan menurut tinggi badan atau LILA. 


Minarto menunjukkan data mengenai pertumbuhan anak paling cepat adalah pada saat anak dalam kandungan sampai dengan usia 2 tahun. Serta ada keterkaitan antara stunting dengan tingkat kecerdasan, di mana kecerdasan seorang anak yang mengalami stunting lebih rendah jika dibandingkan dengan kecerdasan anak yang tinggi badannya normal.


Secara jelas Entos juga memaparkan jika tinggi badan anak mencerminkan kondisi daripada sel syarafnya. Pada waktu sampai usia 2 tahun, begitu bayi lahir 30% sel syaraf otaknya sudah terbentuk. Sedangkan pada usia 2 tahun 70-80% sel otaknya sudah terbentuk. Oleh sebab itu pemberian gizi yang baik dan tepat dimulai ketika anak masih dalam kandungan sampai dengan usia 2 tahun. Jika pada usia awal kelahiran anak memiliki panjang badan di bawah standar, kemungkinan itu merupakan gejala awal anak mengalami stunting.


 "Artinya, sebetulnya kesempatan kita untuk memperbaiki gizi seseorang hanya ada pada waktu ibu hamil sampai dengan anak umur 2 tahun. Kalau setelah itu, maka bayi yang tidak kita perbaiki dengan baik kalaupun kita sekolahkan dengan baik, tetapi hasilnya tidak akan optimal" jelas Entos.


Hal yang menjadi poin penting dalam upaya mengurangi peningkatan stunting khususnya di Indonesia adalah dengan Inklusi Kriteria, yakni pertumbuhan janin normal, ASI eksklusif 4-5 bulan, MPASI (Makanan Pendamping ASI) dikontrol, pemeriksaan rutin pada ibu hamil dan anak balita, ibu tidak merokok dan mengonsumsi alkohol, serta  sanitasi dan higiene, yaitu usaha untuk mempertahankan atau memperbaiki kesehatan. Minarto juga mengatakan jika stunting sudah terjadi pada anak, hal yang dapat dilakukan adalah dengan cara mengontrol berat badan anak agar sesuai dengan standar, sehingga tidak menyebabkan anak mengalami kegemukan ataupun terlalu kurus. 


Oleh karena begitu pentingnya mengetahui pemahaman dan pencegahan terhadap stunting, Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi perempuan muda Muhammadiyah yang ramah perempuan dan anak mendukung penuh terselenggaranya workshop ini sebagai upaya pemberian pemahaman kepada anggota Nasyiatul Aisyiyah, yang kemudian  akan ditindaklanjuti menjadi gerakan pemahaman stunting yang lebih luas kepada masyarakat. 
Ketua Pimpinan Pusat Nasiyatul Aisyiyah, Khotimun Sutanti, dalam workshop mengatakan bahwa upaya Nasyiatul Aisyiyah cegah stunting termasuk ke dalam gerakan Keluarga Muda Tangguh,

"Dalam NA ada gerakan Keluarga Muda Tangguh. Yang di dalamnya terdapat 10 pilar. Di mana salah satu pilarnya itu tentang kesehatan dan lingkungan yang baik" kata Khotimun.

Pilar inilah yang melandasi gerakan cegah stunting.


Entos menambahkan bahwa jika Nasyiatul Aisyiyah ingin melakukan gerakan atau upaya pencegahan stunting kepada masyarakat, maka Nasyiatul Aisyiyah haruslah mengetahui dulu bagaimana keadaan yang sebenarnya dihadapi oleh masyarakat, ini dapat diketahui dengan cara langsung turun ke lapangan. Ia juga berharap semoga acara workshop ini tidak hanya sekadar berhenti sampai di sini saja, tetapi dapat diteruskan kepada masyarakat. (Nepi). 

 

Berita terkait: